Dan terungkap sudah, semua isi hati selama ini, memang hanya rasaku saja terimakasih sudah memberi warna dihidupku. dulu
Terimakasih sudah mengukir senyum di wajahku,dulu.
terimalakasih untuk hal kecil yang bisa membuat tawaku renyah, dulu.
Terimakasih untuk semangat hidupku dulu yang kau beri walau hanya dari senyum kecil dibibirmu.
Semua itu berarti sekali buat saya
Walau tidak buat kamu.
Maaf saya salah mengartikan kedekatan kita, maklum sedari dulu
Aku tidak pernah, kenal akan sosok laki laki begitu dekat.
begitupun kamu.
Aku tidak pernah berharap lebih dari kamu. Aku cukup tau diri
Dari perhatian sedikit yg kamu beri itu, kamu bisa mengubahnya menjadi rasa perhatian yang lebih aku berikan untuk kamu.
Rasa sayang, bermula ketika kamu mengunggah salah satu kata kata di media sosial mu, tentang perasaan.
Aku kira itu untuk aku.
Salahnya aku tidak berani bertanya.mungkin itu untuk seseorang dihati kamu? Saya tidak tahu.
Dan yang bodohnya aku mulai konsumsi semua katakata dan unggahan, di sosmed kamu.
Hingga pada suatu ktika kamu berfoto berdua , dengan lawan jenis
Jujur aku menitikan air mata.
Dan diam tanpa bertanya.
Aku bodoh
Sangaat bodoh..
Aku tak berani bercerita kepada siapapun.
Aku memilih diam dan mnyendiri.
Agar rasa ku tetap terjaga
Dan
Aku bisa tetap bersama kamu, tanpa rasa canggung.
Aku tidak berani ungkapkan itu semua..
Aku takut kamu berubah.
Tak seorang pun tau tentang rasa ini, namun setelah kamu pergi.
Rasa itu semakin dalam, aku ikuti semua sosial media kamu.
Walau kamu tak setitik pun peduli.
Tapi tak apa, itu semua akses agar akau bisa komunikasi dengan kamu dan mengetahui keadaan kamu.
Dulu, aku pernah bercerita kepada kamu, disaat jam istirahat kerja, tidak tahu kamu ingat atau tidak? tepatnya di hari ulang tahun aku. Tak ada sesuatu yang istimewa, tidak apa2 aku terima.
Pada saat itu, kamu hanya minta untuk break dan traktiran kecil.
Ya, aku terima.
Aku tawarkan, tempat yang kamu ingini, nyatanya kamu hanya memilih warung kecil dengan makanan alakadarnya.
Disitu aku bercerita, aku ada tawaran untuk menjadi salah perawat di rumah sakit luar negri, kala itu aku masih satu tahun lebih bekerja bersama kamu.
Aku bercerita, tentang orang yang datang memberi tawaran itu, dan aku tolak.
" kenapa?? " pertanyaan itu yang berikan kepada saya.
Dan saya "tersenyum", dan berkata "aku ga betahan".
Dan kamu menjawab alakadarnya.
Tau kah kamu, dibalik jawaban saya, ada kata " aku tidak mau pisah, dan kehilangan senyum kamu".
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga aku dengar kamu berhubungan lebih dari sekedar teman dengan atasan kamu.
Jujur aku sedih.
Tapi aku ga pantas untuk marah, kepada siapapun itu. Tapi tidak apa2
kita jalani hari sebagai seorang teman saja.
Semakin hari semakin aku tidak mau kehilangan kamu, walaupun sesak didada ku ingin aku ucapkan semua itu.
Aku tetap saja tidak berani,
Hingga kamu pergi dari pekerjaan ini, dan memilih meninggalkan kota ini, tanpa pamit dari aku, aku tidak apa2.
Mungkin, terlalu banyak orang yang peduli sama kamu, hingga aku selalu yang terbelakang dan kecil dimata kamu. Kamu datang hanya meminta tolong ..
Tapi saya salah, saya mengartikan lebih.
Harusnya saya bertanya bukan diam.
Kini bulanpun berganti tahun, kamu sudah berubah :)
Mnjadi kupu2 indah
Yang disukai oleh banyak kamu hawa.
Setelah beberapa tahun, kamu pergi dari tempat ini,aku mulai berani bercerita pada sahabat dekatku,
Satu persatu mereka mengajarkan ku, tentang bagaiman sikap yang harus dilakukan.
Salah satu nya ,
Ya...
Bilang sejujurnya saja.
Dan tetap aku tidak berani.
Tau kah kamu..
Aku selalu membanggakan kamu didepan meraka.
Kamu sempurna..
Bahkan terlalu sempurna buat aku.
Aku bercerita baik tentangmu didepan mereka.
Respon sahabat2 aku baik.
Walau tak tak tahu respon di dalam hatinya mengatakan "mungkin aku ini manusia bodoh".
Aku aku tak peduli, kenapa??
Karena rasa sayang aku.
Hingga aku berada di titik yang sangat lelah.
Hingga salah seorang sahabaku, merasa kasihan terhadaku, karena hidup di bayangi masa lalu yag mozaik.
Dia selalu memberi masukan baik,
Dan kadang mendesak aku untuk mngatakan sejujurnya kepadamu.
Tetap. "Aku tidak mau".
Karena apa? Walaupun hanya melalui sosmed, aku tetap canggung mengatakan hal yang serius kepadamu.
Tanganku tiba2 saja dingin, jika aku mengatakan sesuatu yang serius.
"TAPI SAMPAI KAPAN?" tanya sahabatku,
"Aku tidak tahu".. jawabku singkat.
Sampai pada suatu hari di melihat isi chat saya.
Dia melihat, ada salah satu chat saya yang ditujukan kepada kamu.
Dia izin kepada saya untuk mengetikan "kalimat"kepada kamu.
Sahabat saya, berinisiatif untuk membantu mengungkapn isi hati saya.
Yang selama 5 tahun mnjadi ganjalan hati saya.
Saya jawab "ya " .
Dia mulai mengetik.
Ditengah ketikan saya berubah fikiran dan berkata "jangan"
"Telat." katanya. satu kalimat sudah terkirim.
Tapi ya sudahlah tidak "apa2 " jawabku. Saya melanjutkan basa basi chat saya.
sembari menunggu satu sahabat saya yg lain.
Dan akhirnya kamu membalasa pesan dari saya, terlontar lah sebuah seluruh perasaan ku dulu yang terpendam.
Semua di ketikan oleh salah seorang sahabatku, tapi itu semua mewakili seluruh isi hati saya kepadamu.
Kamu pun menyampaikan permintaan maaf dan sayapun demikian,
Maaf, dari kamu untuk mnjaga perasaan sebagai seorang teman mungkin.
dan maaf dari aku untukmu karena aku salah mengartikan arti hadirmu selama ini.
Hhhhhhhhhhuft, tarik nafas dalamku seakan menahan pedih, yang ku tahan dihadapan kawan2 ku.
Tapi meraka tau apa yg dirasakan saat ini. Senyum ku terlihat palsu, wajahku mungkin terlihat sangat kecewa.
"Sabaaaarrr"..
Ungkap salah satu sahabat saya
"Saya juga pernah mengalami demikian, dan sakit rasanya", sambungnya.
Dia menganjurkan untuk menghapus semua akses pertemanan di sosmed, karena dia khawatir, kamu akan majang foto girlfriend kamu.
Tapi saya tetep kekeh, untuk tidak menghapusnya. Tak ada alasan kuat untuk memepertahankan akun akun kamu di sosmed, hanya saya ingin kamu melihat saya bisa bahagia tanpa kamu. Bahkan lebih dan sangat bahagia.
See, benar saja sehari selang ,aku megutarakan isi hati saya, kamu memajang foto girlfriend kamu.
"Ah, sudahlah", padahal bisa saja saya melakukan hal yang sama.
Tapi......
Ada hati yg sedang saya jaga saat itu.
Bukanya dendam, hanya berharap suatu saat kelak kamu akan rasa apa yang aku rasa.entah pada siapapun itu.
Aku akan tetap melanjutkan, perjalanan hidup saya.
Terimakasih banyak kepada tuhan, telah membukakan mata hati saya, agar tidak berharap pada manusia,
Terimakasih untuk sahabat, yang menyampaikan isi hati yang sudah lama terpendam lama.dan
Terimakasih untuk kamu yg mndengarkan saya saat itu.
:)