Monday, June 29, 2015

Bukan tegar hanya berpura pura tegar

Iliya panggilanya, kehidupan dan latarbelakang nya, sangatlah sederhana.
Dia selalu kelihatan tegar dan selalu ceria, berbeda didalam hatinya yang selalu menangis, menangisi hidupnya.

Dia bekerja di salah satu perusahaan swasta, kehidupanya yang pas pasan , iliya harus bisa mengatur keuanganya, kehidupan dan lingkunganya berbanding terbalik dengan harapanya, semua diluar dugaan.

Kadang,iliya jualan sampingan untuk menambah pemasukannya, tapi usahanya tak semudah apa yang difikirkanya,usahanya terhenti, dan hanya mengandalkan gaji.

Iliya mempunyai adik laki2 dan perempuan, serta tinggal bersama keduaorangtua dan neneknya.

Kadang ia hanya terdiam diteras, depan rumahnya, matanya kosong, mungkin memikirkan betapa sulitnya hidup yang dijalani, ia memandang rumah kanan kirinya, yang begitu mewah diisi dengan perlatan rumah tangga yang tidak murah, belum lagi kendaraan roda empat yang berjejer didepannya. "Kenapa hidupa saya tidak semudah mereka?!" beribu tanya mengendap di benaknya.

"Tuhan sedang mempersiapkan apa untukku?" batinya menggumam.

Suatu hari setelah pulang kerja, ibunya masih menunggu didepan teras, ucapan salam terlempar dari mulutnya,
Ibunya menjawab dg lirih, berlanjut dengan bincang2 ringan, iliya hanya diam, mungkin masih terasa pegal dibadanya.
Belum sampai, iliya berganti pakaian, ibunya bertanya
"Ada uang tidak?, ibu sudah pinjam tetangga untuk seSuatu"
Tanpa suara, iliya merogoh sakunya, ada beberaoa uang warna biru, itupun sisa pembayaran hutangnya, tanpa kata dia langsung masuk dan duduk, sembari merasakan pegal dibadanya,

Pikiranya kembali kosong, matanya mulai berkaca-kaca, masih terbayang susahnya cari uang dan masih terasa rasa pegal dibadanya, tapi uang saku sudah tak lagi ada, sedih memang, tapi apa mau dikata rizki bulan ini, tetap harus disyukuri.

Matanya sembab, teringat betapa sulit hidupnya, berbeda dengan teman sebayanya, ketika pulang bekerja, iya harus menjaga nenek dan kadang adiknya juga, sungguh hidup itu  perjuangan baginya, jarang sekali, ketika ia pulang makanan terhidang di meja makan, padahal ia selalu berharap seperti itu .

"Kenapa hidupku sperti ini ya rabb?!,kenapa kau berikan cobaan kepadaku, mereka bilang KAU tidak akan mencoba  diluar batas kemampuanku?" Gumamnya,
lantas, jika,aku meyerah dan berkata aku tidak mampu, apakah smua keadaan akan membaik?"  Batinnya berperang.

Iliya, duduk sembari melihat orang yang ilir mudik melewati gang sempit didepan rumahya, sapa dan senyum  terlempar dari bibirnya itu hanya kedok saja, untuk menutupi rasa sedihnya, sebisa mungkin dia kelihatan tegar padahal dia tidak setegar itu, kadang iliya  bertanya tanya, "adakah satu orang yang sangat peduli padaku, ktika aku sakit, dia ada merawatku, ktika aku lupa dia mengingatkanku, serta selalu ada disampingku diantara suka dan dukaku?" Hmmm entahlah.
tarikan panjang nafasnya menahan tetesan air matanya.

Dia hanya diam, iliya berharap sang pemberi kehidupan sedang mempersiapkan kehidupan yang baik untuk masa depannya,
Karna ia percaya selama ada usaha dibarengi do'a semua akan indah pada akhirnya, meskipun harus terjatuh, selama masih bisa bangkit, harus tetap mencoba.

No comments:

Post a Comment